Batu Bertuah
Wednesday, June 27th, 2007Alkisah, Once upon a time, seorang Ayah memanggil 2 anaknya yg beranjak dewasa dan berkata:
"Anakku, apakah kalian selalu ingat untuk minta maaf jika melakukan suatu kesalahan pada orang lain atau pada Tuhan..?
Anak pertama menjawab: "Seingatku begitu, Dad". Sedangkan anak yang kedua bilang: "Kadang-kadang aja, Pi…klo kesalahannya gede. Abis kadang malu, atau takut, atau males minta maaf kalo kesalahannya itu2 doank."
Lalu Ayahnya berkata lagi:
"Kalau begitu sekarang- kau anakku yg sulung- ambillah sebuah batu besar di halaman dan letakkan di dekat kolam. Dan kau anakku yg bungsu, ambillah batu2 kerikil sebanyak kau bisa dan letakkanlah menyebar di dekat pohon mangga itu."
Kedua anak yang cakep2 itu segera pergi ke halaman melaksanakan apa yg diinstruksikan Ayahnya tanpa banyak kata.
Setelah selesai, mereka kembali menemui Ayahnya.
"Sudah, ya..?"
Kedua anaknya mengangguk.
"Sekarang kembalilah ke tempat dimana kalian meletakkan batu2 itu, lalu bawalah kemari batu yg kalian ambil tadi. Batu yang sama, jumlah yg sama."
Anak pertama-yang wajahnya mirip Tobey Maguire- bergegas mengambil batu besar yg dia letakkan di dekat kolam tadi. Ga pake lama, soalnya batunya segede komputer LG layar 17 inch. Sedangkan adeknya kebingungan di bawah pohon mangga sambil garuk2 kepalanya.
"Waduh, kerikil2 yg kuambil td kan kecil2, lagian kusebar gitu aja…gimana ngumpulin semuanya..?"
Dan melaporlah dia pada Ayahnya dengan wajah bingung. "Aku lupa mana dan dimana batu2nya, Pi.."
"Begitu juga kesalahan atau dosa kita, anakku. JiKa kita melakukan kesalahan atau dosa besar kita akan mengingatnya dengan mudah, tapi kita sering lupa atau bahkan tidak menyadari bahwa kita telah melakukan dosa/kesalahan kecil pada orang lain atau pada Tuhan. Padahal jika hal itu dibiarkan, lama2 akan menumpuk, menyakitkan baik kita sendiri maupun bagi orang yg telah kita sakiti. Kesalahan2 itu mungkin kita pikir hanya kesalahan sepele, padahal mungkin efeknya sangat besar bagi orang lain."
Begitulah kisah batu bertuah-versi ke-seratus limabelas- yang bisa mengajarkan sebuah pelajaran kehidupan baru bagi kita (amin).

