Lilin Cinta
Tuesday, October 31st, 2006…
Aku tahu,
Aku akan leleh tuk menyalakan apimu.
Tapi apapun itu aku mau, jika untuk merasakan hangat dan terangnya cahayamu.
…
Aku tahu,
Aku akan leleh tuk menyalakan apimu.
Tapi apapun itu aku mau, jika untuk merasakan hangat dan terangnya cahayamu.
Ntar lagi libur. Lebaran
Menyenangkan?
Hopefully.
I’m scared.
But I’m sure I can. For me, and my little star.
This holly day will be a good start for me.
Yeah…"Maaf lahir batin ya , teman2…."
(I’m very glad to have u all in this world!)
Fasting month. Bangun malam. Waktu yang sangat bagus untuk berkomunikasi dengan Tuhan, bukan?
Conversation 1.
Blank.
Aku terlalu kikuk (atau malu?) untuk sekedar berkata: "Tuhan, aku ingin bertanya…"
Conversation 2.
Tuhan Maha Tahu. Dia yang menyapaku duluan.
Dan aku bilang: "Tuhan..aku takut…"
Dan dia membasuh jiwaku dengan sebuah kesadaran bahwa ketakutan adalah naluri manusiawi.
Conversation 3.
Aku mulai menyusun dialog panjang denganNya. Kuutarakan segala sesak di dada. Ketakutanku, kecemasanku, kepedihanku, juga kemarahanku.
"Kenapa harus begini, Tuhan? Kenapa harus aku?"
"Mengapa tak kau biarkan aku menikmati kebahagiaan, sebentar saja dalam hidupku? Mengapa Kau menghukumku dengan cara ini, Tuhan?"
Dan Tuhan menjawab," Karena Aku tahu kamu mampu."
Conversation 4.
Perih. Aku terisak. Dan memohon.."Sudah hentikan saja, Tuhan. Aku lelah. Aku tak sanggup lagi, beban ini terlalu berat kutanggung sendiri."
Tuhan diam. Dia cuma memberi kesan lewat desauan malam, saat2 dimana kuraba rahasia kehidupan itu, dan mulai kutemukan kekuatan seiring naluri yang makin bersemi.
Conversation 4.
Blank. Aku marah. Aku marah pada Tuhan. Aku menatapNya, tapi aku tidak berkata apa2, menyapaNya pun tidak.
Aku sakit hati. Aku patah hati. Aku benci.
….
Aku merasa Tuhan tidak adil. Mengapa Dia membiarkannya berlalu sedemikian mudah? Mengapa tak Dia hentikan saja kesombongan manusia itu?
Conversation 5.
Aku enggan memulai komunikasi, tapi aku tidak tahan. Aku tahu Tuhan tidak menyembunyikan dirinya dariku. Aku tahu Tuhan memahami apa yang ada di hatiku. Dan aku tahu Tuhan Maha Sabar untuk menungguku kembali berdialog dengannya, karena memang bukan Dia yang membutuhkanku, tapi aku yang membutuhkanNya.
Maka kusapa Dia. Dengan untaian protes yang panjang. Curhat.
Tapi Dia bilang, "Jangan sok kemeruh. Manusia itu cuma menjalani. Semua Aku yang mengatur, apa manusia bahagia atau tidak. Manusia cuma bisa memilih jalan dan menjalani pilihan itu. Semua sudah tertahbiskan dalam ayat2Ku: jalan yang baik akan menuju kebaikan. Jadi jangan sok tahu, menganggap semua yang bersusah payah itu cuma akan menderita. Jalanilah apa yang telah kau pilih, dan biarkan Aku menentukan titik akhir perjalananMu. Kau pikir Aku akan membiarkan umatKu berjalan sendirian di muka bumi ini?"
Aku tertohok. Memeluk kesadaranku bahwa sebenarnya selama ini aku yang terlalu sombong berpikir bisa tahu akhir dari semua pilihan yang kujalani selama ini. Sok melankolis merasa bahwa aku manusia paling menderita di dunia, yang telah diabaikan oleh Tuhan. Padahal sesungguhnya, aku adalah manusia beruntung!
Sebenarnya, Tuhan yang Maha Adil telah mengabulkan permohonanku tanpa aku menyadarinya. Siapa yang datang padaNya degan pilu menghiba agar Bintang kecilku kembali ke pelukanku? Tuhan tahu aku merindukan bintang itu. Maka Dia kirimkan Bintang kecil ini untukku.
Dan aku protes, marah. Kecewa. Padahal Tuhan telah berbaik hati memenuhi ruang sepiku degan anugerah pengganti ini. Oh, padahal sekarang seharusnya aku sadar, aku menjadi lebih kaya dengan dua Bintang yang bercahaya ini. Dua bintang, bayangkan. Sementara di luar sana…masih banyak jiwa2 yang hampa tanpa cahaya.
Tuhan, ampuni aku telah berburuk sangka padaMu. Ampuni Aku yang telah terlalu naif dan sombong ini.
Dan Tuhan merengkuh laraku dalam cermin kecil kehidupan yang begitu bening.
"Dia begitu murni. Dia kupilihkan untukmu."
Dan aku manusia terpilih itu..untuk memiliknya. Bagaimana aku mampu menafikkannya?
Setua ini, kau sebenarnya buta akan makna cinta yg sesungguhnya.
Kaupikir cinta itu apa, sekedar perasaan ingin berbagi, memberi dan menerima selamanya?
Cinta itu…
Saat kita bisa memilih pilihan yang terpahit sekalipun, untuk sesuatu yang berharga dalam hidup kita.
Cinta itu…
Saat kita mendapatkan kekuatan dari hal paling buruk yang terjadi dalam hidup kita.
Cinta itu…
Keyakinan bahwa dibalik semua beban pasti kan datang bahagia.
Dan cinta sejati adalah perasaan menyejukkan di tengah dahaga yang melemahkan,
cahaya yang menerangi jiwa di saat kegelapan menyergap sukma.
….
Saat ini, aku tengah merasakannya!