Abis mandi, ada sms dari Fatz:
"Sepupunya Raihan udah nongol, besok anak2 nengokin bareng2, ikut, kan? Dijemput ma Upe ma Ria, oke? (Sorry ngasih taunya telat, soale aku lupa2 terus mo sms kamu :D)"
Diam.
Mencoba membayangkan sebuah wajah bahagia di ujung sana.
"Cowok atau cewek?"
"Cowok."
Menghela nafas panjang, teringat sepasang mata bening yang menatapku. Masih terasa halus kulitnya di kulitku.
Menimbang, akhirnya mengetik sms ini:
"Kenapa mendadak begini ngasih taunya? Aku di kampung halaman sekarang, Senin baru balik. Maaf banget, ga bisa ikut. Glad to hear that Mom and her son are okey. Salam buat mereka, ya. Kalau udah di Malang aku kabari."
Masuk kamar, menutup wajah dengan bantal, mencoba mengenyahkan penggalan2 kenangan di benakku. Mencoba mengendapkan perih yang tiba-tiba menyergapku, membuatku merasa jadi orang malang di dunia ini.
Kenapa aku seperti ini?
Childish..norak?
Dia sahabatmu, dia sedang bahagia, kenapa enggan merasakan kebahagiaannya juga? Hanya karena kebahagiaannya atas makhluk mungil itu?
Woww….jelousy. Aku cemburu, sungguh. Aku iri.
Iri pada sahabatmu sendiri? Wake up! She gave you support when you were falling. She made up no judgement when you made a fault. She-they are- is always beside you. And that holy cute human being?
Dia milikknya, mereka pantas bahagia. Terimalah keadaan kau tidak sama seperti mereka.
Menghela nafas panjang. Ingat saat berkumpul bersama di rumah Cinta itu.
Akhirnya…
"Kuusahakan sebelum puasa aku mengunjungi mereka, okey? Aku ingin lihat keponakan baruku"
Tersenyum.