Archive for September, 2006

Jiwaku

Thursday, September 28th, 2006


Aku ingin seperti sebatang bunga liar di tengah padang rumput yang luas ini.
Kecil, namun tegar.
Berani menantang angin dan kekeringan.

Sebatang bunga liar tidak perlu cantik untuk menghiasi padang yang gersang,
Tapi dia kuat.
Sebatang bunga liar tidak perlu wangi untuk menebarkan pesonanya di alam
Tapi dia indah.

Dengan helaian daunnya yang kecil, dan kelopak bunganya yang mungil,
Dia bahkan bisa bertahan mekar lebih lama dari setangkai mawar berduri di tamanmu.

Malam Hujan Pertengahan September

Wednesday, September 20th, 2006

"Sudah pastikah keputusan ini?"
Hening. Hanya suara angin yang mengetuk-ngetuk kaca jendela, dan gerimis yang menderas menerpa genting.
"Tidak bisa diubah..?"
Masih berusaha.
Gerakan tubuh di depan jendela terbaca dengan jelas.
Angin semakin kencang, menyelinap di sela-sela jendela seperti pencuri yang merampok kebahagiaan sebelum fajar tiba.
Tangannya meraih monokrom itu.
"Lihatlah dia. Tidakkah hatimu tergetar untuk menyentuhnya?"
Hening.
Hanya gerimisyang jatuh di atas atap, dan kepakan sayap burung malam yang mencari tempat berteduh di antara batang pohon.
Mata itu menatapnya. Pendarnya bergelombang dipermainkan nyala lilin yang bergoyang dihembus angin.
Ada cinta disana, separuh kebahagiaan dan separuh ketidakberdayaan, atau kepengecutan?
"Dia itu.."
"Jangan sentimentil." Suara itu serak memotongnya. "Hidupmu telah banyak diisi dengna tangis. Jangan bodoh."
"Kau atau aku yang bodoh?"
Dengan gerakan tak sabar, tubuh di depannya bergerak menjauh. Lenyap ditelan bayang2 gelap kelambu.
"Aku pusing"

Dan aku hampir gila.
Melangkah menuju balkon yang separuh terbuka. Titik2 air memberi batas yang jelas di lantai coklat.
Berdiri di zona yang tak terjangkau sinar lampu kuning di sudut balkon, menatap langit. Mencari-cari bulan yang menggigil kedinginan di balik langit kelam.

Berapa dosa yang tercatat di atas sana?
Mampukan sayap-sayap rapuhnya menembus kelam menghapus catatan dosa yang mungkin telah separuh digoreskan oleh Malaikat Kepedihan?

Apakah dia cukup kuat untuk itu? Mengulang masa-masa itu…tapi kali ini sendiri. Tanpanya.
Tanpanya.
Hanya berdua.
Berdua.

Hening.
Hanya desau angin yang memainkan riak rambutnya, dan tetes air yang mengalir di wajahnya, menyatu dengan air mata yang perlahan jatuh di pipinya.

Tuhan…kirimkan satu malaikatMu dalam hidupku…ulurkan tanganMu membuka pintu2 gelap itu…
Jangan biarkan aku kehilangan hal2 yang seharusnya menjadi milikku….kebahagiaan.

Indahnya Bermimpi

Tuesday, September 19th, 2006

Pa,
Bahagiakah dirimu saat menatapku?
Senja baru saja jatuh dan jurai api malam menangkap bayangku;
Cantikkah aku di dalam redupnya rembulan?

Pa,
Rabalah awal keindahan itu
Tergetarkah batinmu?
Dia terlukis dari kuas jiwa di atas kanvas cinta
Dan dia milik kita, di nadinya tertulis copyright nama kita berdua
       (Kita adalah seniman cinta terkompak di dunia ini,
       Benar kan, Pa?)


Pa,
Biarkan aku bersandar di bahumu, menatap bulan yg makin turun ke peraduan.
Meski jauh di lubuk hatiku aku tak bisa berhenti mengingkarinya hanya sebagai mimpi,
Esok hari bangunkan aku Pa,
Jangan sampai terlambat (lagi) menjadi orang pertama yang mencium buah cinta kita

Malam ini, Saat Ku Mengalami seperti Malam Dua Tahun Lalu

Thursday, September 14th, 2006

Nervous. Gelisah (perasaan mau muntah yang sama seperti dua tahun yang lalu). Tapi juga excited.

Duduk di ruangan sejenis (seperti yang masih kuingat di benakku), menatap orang2 dengan bermacam ekspresi di depanku. Kebanyakan ekspresi bahagia. Pasangan perpegangan tangan, atau perempuan2 utuh yang yang mengelus miliknya dengan mata berbinar.

Tidak ada yang berekspresi sama denganku. Ngantuk, capek, dan resah. Sendiri, memegang erat tali tasku seperti  takut ruangan itu akan menelanku bulat-bulat. Adrenalinku berpacu saat namaku dipanggil. Yeah..it’s time for the show!

Nervous. Gelisah (perasaan mau muntah yang sama seperti dua tahun yang lalu). Tapi juga excited.
Semua pertanyaan kujawab dengan lancar (sesuai fakta, kan). Lalu tibalah session ‘pembuktian’.

Naik, menunggu, mendengarkan.

Adrenalinku berpacu. Jantungku berdetak tak tentu.

Ngantuk, capek, dan resah. Tapi aku sangat excited melihatnya.

Begitu mungil, lincah..dan…innocent.

Kudengarkan dengan baik-baik yg dikatakan orang itu. Tidak nervous lagi. Tidak shock lagi. Tidak pengen muntah lagi- saking nervousnya (seperti saat aku mendengar uraian yg isinya kurang lebih sama dua tahun yang lalu).

Aku menikmati detik demi detik pertunjukan itu. Dengan bahagia?

Saat aku keluar, ingin rasanya aku teriak: "Dia ada! Dia benar2 ada….! Dia…milikku!"

Cinta Pada Suatu Ketika

Tuesday, September 12th, 2006

Jadi begitu.
Akhirnya harus kututupi bayang rembulan dengan tanganku sendiri.
Padahal kemarin kita masih menggapainya berdua

Sudah separuh jalan, dan kau tak tahan tuk berhenti.
Terlalu beratkah rindu itu kau tanggung sendiri?
Atau mungkin semua menjadi terlalu naif bagi cinta yang cuma pura-pura.

Yang jelas,
Tlah kupetikkan bulan itu untukmu.
Kubalurkan sinar peraknya ke setiap inci tubuhmu.
Sekarang saat tinggal bayang-bayang,
Aku kau tinggalkan berpetualang.

Haruskah kuucapkan terimakasih,
Untuk (keberanianmu) mampir ke satu titik hidupku (lagi)?

***Dan bintang kecilmu pun bergerak resah nun jauh di sana***

Rhapsody Balekambang

Sunday, September 10th, 2006

Sayangku,
Bisakah kau mencintaiku
                            seperti ombak yang tak pernah jemu
                                                            mencumbui pasir pantai itu?
Cintaku,
Dapatkah kau menjaga setiamu padaku
                        seperti batu karang yang tegar menantang
                                                                            ganasnya gelombang?
Rinduku,
Tolong berikanlah hatimu padaku
                     seperti butir pasir yang menyerah tulus
                                                              dilembabkan buih putih

(Dan akhirnya, biarkan dirimu dan diriku menyatu seperti bias jingga di batas cakrawala)
                                                                           
                                                           **Balekambang, 10 Sepetember 2006**

Jelousy Drives Me Crazy

Friday, September 8th, 2006

Abis mandi, ada sms dari Fatz:
"Sepupunya Raihan udah nongol, besok anak2 nengokin bareng2, ikut, kan? Dijemput ma Upe ma Ria, oke? (Sorry ngasih taunya telat, soale aku lupa2 terus mo sms kamu :D)"

Diam.
Mencoba membayangkan sebuah wajah bahagia di ujung sana.

"Cowok atau cewek?"
"Cowok."

Menghela nafas panjang, teringat sepasang mata bening yang menatapku. Masih terasa halus kulitnya di kulitku.

Menimbang, akhirnya mengetik sms ini:
"Kenapa mendadak begini ngasih taunya? Aku di kampung halaman sekarang, Senin baru balik. Maaf banget, ga bisa ikut. Glad to hear that Mom and her son are okey. Salam buat mereka, ya. Kalau udah di Malang aku kabari."

Masuk kamar, menutup wajah dengan bantal, mencoba mengenyahkan penggalan2 kenangan di benakku. Mencoba mengendapkan perih yang tiba-tiba menyergapku, membuatku merasa jadi orang malang di dunia ini.

Kenapa aku seperti ini?

Childish..norak?

Dia sahabatmu, dia sedang bahagia, kenapa enggan merasakan kebahagiaannya juga? Hanya karena kebahagiaannya atas makhluk mungil itu?

Woww….jelousy. Aku cemburu, sungguh. Aku iri.

Iri pada sahabatmu sendiri? Wake up! She gave you support when you were falling. She made up no judgement when you made a fault. She-they are- is always beside you. And that holy cute human being?

Dia milikknya, mereka pantas bahagia. Terimalah keadaan kau tidak sama seperti mereka.

Menghela nafas panjang. Ingat saat berkumpul bersama di rumah Cinta itu.

Akhirnya…

"Kuusahakan sebelum puasa aku mengunjungi mereka, okey? Aku ingin lihat keponakan baruku"

Tersenyum.

Catatan Bidadari Api

Friday, September 1st, 2006

Telah kutangkup malam dengan janjimu
Saat pagi tak lagi bisa dipercaya
Berdua kita menulis perjanjian dengan tinta darah dan air mata

Telah kutulis namamu dia atas selimut malam
Kala terang mentari tak lagi punya arti
Setelah bergantian raga menggelinjang kita menertawai ketidakberdayaan itu dengan kepuasan
Berdua, kita isi setiap lembarnya dengan catatan hitam

Setahun yang lalu kita telah membunuh asa itu
Menikamnya dengan kekerdilan jiwa bodoh kita hingga nafas penghabisan
Hanya aku yang sempat mengalirkan air mata duka
dan kau yang memberi nama luka itu "Cinta yang Salah Kaprah"

Hari ini kita akan membunuh Cinta itu lagi.

Betul-betul bodoh kita, atau kejam?
(tidak ada yang bisa menghakimi apa yang kita perbuat
Selain Dia )

Hanya kita manusia yang tahu dosa-dosa itu
hanya kita yang tahu perihnya sisa-sisa kehilangan itu
Hanya kita yang merasa trauma melihat tetesan darah di atas kematian sederhana itu

121 hari, 92 hari, malam ini…
Hanya kita yang tahu sesaknya menjalani

Peluklah aku agar aku mampu
Dekaplah aku agar aku kuat
Hapuslah air mataku bila aku menangis,
Berdua kita alirkan sesal itu dalam puisi bumi
lalu, setelah itu jangan biarkan aku jatuh lagi

Aku Kangen….

Friday, September 1st, 2006

Perasaan itu
Seperti nyala api yang membakar jurai hatiku
Meliuk mentertawai ketidakberdayaanku
Yang cuma bisa menyusur garis wajah mungil di fotomu

Rasa itu
Bagai ular yang melingkar melemahkan syaraf tubuhku

Mengalirkan bisa yang perlahan mengerdilkan jiwaku

Karena kau…Separuh nafasku
                       Di dirimu ada diriku
                               Di nadimu ada hidupku

Aku kangen.

Kangen.

SUNGGUH!

Aku
   kangen
       kangen
                sekali

Kangen
      sekali

                … KANGEN!