Archive for April, 2006

Pecundang Sejati Pasti kan Mati Tanpa Harga Diri

Monday, April 24th, 2006

Wah, judulnya aneh hehehe. Well, yeah…semua pada tau kn pecundang sejati tu seperti apa, masa orang2 kayak gitu bisa mati dengan penuh percaya diri, mereka hidup aja udah ga punya harga diri, iya kn?

Eh, sarkatis banget..soal apa sih, neeh?
Lord Valdermot, siapa lagi. Semua kualifikasi untuk mejadi seorang PECUNDANG SEJATI sudah dia penuhi. Bukti tersolid adalah peristiwa yg terjadi on weekend lalu, seru!

Sbenare aku ga berencana melakukan itu sih, tapi aku ga tahan lagi. Aku rasa sudah tiba saatnya bagi dia untuk berhenti berpikir bahwa aku bodoh. Makanya, setelah malam jahanam itu (wah..apalagi ini hehehe) aku memutuskan tuk menerobos zona amannya. Menguak kebohongan2 yg selama ini dia tebar di antara aku dan dia.

Pucat pasi dia, begitu naif di balik mata kelamnya. Saat menatapku menguraikan simpul2 dusta itu dia terlihat lelah, kerdil dan bodoh. Ah..ternyata itulah jiwanya yg sebenarnya!hah..pecahkan saja kaca itu, biar ramai hehehe. Peri kecil itu tersedu ketika menyadari bahwa dia berdiam di pelukan seorang pecundang. Akankah dia bertahan? Aku tak peduli! Yang kutahu malam itu aku telah jabarkan semua apa yg seharusnya dia tahu, dan tentu saja itu sekaligus untuk membunuh Pangeran Kegelapan itu.

Kau pikir teori bahwa "Sekecil apapun Keburukan yg ditanam kan berbuah keburukan pula" tak berlaku di dunia kecilmu? Hah!Sutradara Abadi hidup ini Maha Adil, Sayang….jadi jangan pernah mengira kau bisa mengatur lakonmu sedemikian rupa.

Bagi pecundang-pecundang sejati lainnya, waspadalah! Segera bertaubat gitu loh..sebelum hal yg sama menimpamu….

Learning after Doing…

Wednesday, April 19th, 2006

                Setiap inci perjalanan hidup manusia adalah sebuah proses pembelajaran.
                Pada orang2 yg mau berpikir, proses itu hanya akan berhenti menjelang mati…

Semua telah stabil sekarang. Perasaanku, pikiranku, hidupku kembali normal. Yeah…aku harap semuanya akan seperti ini: BAIK2 SAJA. Aku sadar mungkin beberapa kali lagi aku harus merelakan diri terganggu oleh telepon2 bodohnya, tapi aku yakin tak lama lagi dia akan jera.

Smalam aku melihat sesuatu yg membuatku berpikir and merenung. Di depan mataku, sebuah kisah hidup yg hampir seperti kisahku tergelar. Sungguh…aku seperti mendengar dan melihat diriku dan dirinya pada mereka. Seorang gadis labil dan seorang laki-laki tanpa hati. Hh…sungguh ajaib dunia ini, begitu penuh warna. Begitu penuh orang2 bermasalah. Aku harap, aku bisa belajar banyak dari semua masalah yg telah menimpaku. Yeah…still a long way to go…

Ingin selalu ditemani Allah tidak? Yeah..of course. So, never walk out of His track. Begitu, kan?

Apa Kabar Dunia? ASYIK, DUH..!

Sunday, April 16th, 2006

                 Makanan otak adalah analogi
                 Makanan hati adalah nasihat
                 Makanan jiwa adalah doa
                 Dan semua itu akan lebih bermakna bila dibungkus dalam IKHLAS

Ehm…kapan itu aku ke tempat Ustadz Arief. Yeah…ustadzku itu masih saja cool and friendly. Begitu ketemu, senyum setengah tawanya merekah, "Na..apa kabar?" Wah! "Suntukk, Tadz!"
Pancet ae..hehehe.

Begitulah…hampir mirip kayak dua tahun lalu, aku duduk di depannya (yg setelah melepas sorban and "aksesories ustadznya" jd keliatan ga nyeremin lol), merangkai cerita demi cerita itu. Ustadz cuma mendesah, menghela nafas, lalu istighfar…"Benar- benar….."

(Perasaanku jadi ga enak..:P)

Tapi kemudian beliau tertawa.."Jadi semua sudah jelas, kan? akhirnya Allah yg turun tangan membuat garis tegas di antara kalian. tapi menurut pikiranmu sendiri lebih baik begitu, kan? Sekarang yg penting mencoba untuk ikhlas…"

YUP, ikhlas! Simple but so..difficult! "Belajar sabar, ya..(wah..perasaan klo ga sabar udah dr dulu aku gantung diri hehe). Someday u’ll get the gold under the stone."

Trus..mengalirlah kalimat2 indah itu dr nya, lugas tapi, dengan bahasa2 gaul yg "tidak menggurui". Begitulah Ustadzku, selalu saja bisa membuat protes2 yg menggeliat di dadaku mampat. Jadi sore itu aku pulang dengan perasaan lebih ringan. Diiringi senyum cool Ustadz Arief (lagi):
"Kalau resah atau ada masalah lagi, telp aja, Hpku aktif 24 jam. Tapi satu syaratnya: Jangan bosan mendengar nasihat2ku…"
Ya..Tadz….., jangan bosan pula tuk mendengar curhatku, okey..and Thanks by the way!

Keadaan Ini

Wednesday, April 5th, 2006

Orang selalu menyalahkan keadaan. Aku tak percaya akan keadaan. Orang yg berhasil di dunia adalah orang yg bangkit dan mencari keadaan yg mereka inginkan. Dan kalau mereka tidak menemukannya, mereka akan menciptakannya.
(George Bernard Shaw)


Keadaan ini, pernah aku temukan sebelumnya.
Aku tidak mencari, sungguh, namun langkahku ternyata tiba di titik itu lagi.
Kebimbangan yang sama, kekecewaan yang sama, kemarahan yang sama…
Tapi waktu telah mendewasakan hati yg rapuh ini.

Api itu telah membakarmu lagi. Menggeliat merengkuhku dalam pusara rasa
Seperti ombak berdebur yg tak putus- putusnya menghantam lapis demi lapis sadarku.
Tapi kau tak cuma membawa buih putih…
melainkan juga duri dari inti bumi

Siapa bayang-bayang yg menaungi mata kelammu.
Saat kau memelukku aku yakin ada serpihan ragu yg menahanmu.
Ah…ternyata bukan cuma makhluk antah berantah itu saja yg berdiam di jiwamu
Peri kecil itu sudah pula melekatkan tentakelnya di nadimu.
Dan tampaknya, denyutan baru telah hadir di puncak gairahnya

Dan semua menjadi tidak berarti lagi.
keadaan yg kubangun beratus- ratus hari menjadi seperti mimpi.
Hanya waktulah yg berjasa meneyelamatkan jiwa kerdilku; menyeretku perlahan-lahan melewati tepian curam batinmu.
Hingga tiba di ujung hari; aku berdiri, menatapmu…menanti,
Tapi keadaan sudah tak sama lagi…

Saat Sedu Sedan tak Lagi Mampu Mengalirkan Perih…

Tuesday, April 4th, 2006

Sebenarnya aku ingin menangis, tapi aku tidak mampu, sungguh. Yang kurasa cuma kehampaan tiada tara, perih yg meraja..lalu seperti api yang padam dalam jiwa. Yeah…aku juga tidak bertanya "Why?" Coz aku takut Tuhan akan menjawab: "Why not?!"

Jadi aku menyusupkan pedihku lewat bait2 ini saja:                                    

Mungkin sekali lagi akan kulupakan malam,
  rinduku tua dan melayang bersama elang: tersangkut
  reruntuhan senja, pagi dan siang yang tak terbaca.
  Mungkin kabut, berharap suatu ketika
  setetes air keabadian tiba-tiba terloncat dari gaunnya.
  Namun di sisiku tiada lain kutemui, kecuali
  bayangku sendiri, yang tentu saja tak pernah bersayap.

Mungkin sekali lagi akan kulupakan malam,
  dan diam, dan tak berharap tentang sesuatu yang sanggup
  memberi penerangan di esok pagi.
  Kadang jalan begitu cepat kita tentukan akhirnya,
  sedang waktu, bagai arus yang tak pernah puas lakunya,
  seperti mau saja kita mengatakan cinta bagi yang
  tak pernah kita cinta: "Lupakan saja!"

Dan kukenang diriku dalam cerminmu:
  semasa jalan tanah, bunga rumput, dan angin
  menjadi begitu bersahabat; kita begitu mesra dan sahdu
  menatap matahari kedua timbul dan tenggelam, yang
  tiada sanggup kita pastikan arahnya, namun bahagia,
  terasa napas keabadian menjalari urat-urat darah kita.

Tuhan, kulihat kelaminku berwarna-warna.

Dan sebutir debu itu tak tahu lagi ke mana dirinya
  akan diterbangkan hampa, selintas kecewa
  memenuhi kesemestaannya - jika di satu titik
  mungkin kita tiada lagi berupa, janganlah itu
  kita katakan: "Tiada!" - atau kekosongan yang
  begitu sulit kita tebak moncongnya - dan dalam
  satu putaran waktu rindunya pun pecahlah, ia
  merasa lewat sebuah lorong dan tak tahu apakah
  yang masih tersisa dari dirinya, ia menatap
  kekosongan itu dengan biasa dan dengan biasa pula
  bertanya: "Kekasih, tak cukupkah hanya sekedar cinta?"

Mungkin sekali lagi akan kulupakan malam,
  mencoba membangun kepastian, di antara puingan,
  demi arah, walau kita tahu: terkadang arah
  cuma sepenggal nasib yang barangkali kelewat percuma,
  barangkali juga cinta akan begitu saja kita lupakan,
  dan dengan berbagai dalih, yang seolah-olah perkasa,
  kita akan berteriak dari jalan demi jalan:
  "Kekasih, kenapa perpisahan begini hambar rasanya?"

Dan bergegas: kupadamkan lampu dalam diriku.

Saat Bulan Tertusuk Ilalang…

Monday, April 3rd, 2006

"Oh My God! You must be angry and shocked, J!" My friend shouted at me. "You must be hurt!" I stared at him with the undescribeable expresion (I dunno whether to laugh or cry) and then took a deep breath: "Am I?"

Well yeah…I think It would be better for me to cry, but I can’t. I
just feel the heavy wind blows trough my heart, makes it so hurt…but
I can’t cry…I feel tired, that’s all.

Whoa….that’s a very bad day for me. Should I tell you why? lol. Yeah..that’s the most shocking day in this month! Umm…Let me explain a little….

Oh..where should I start from? That fucker? My stupidity? The condition? Or..that bitchy? Gini deh ya..(klo pake bhs Inggris kayake ga seru and kurang greget ya, hehehehe)

Dulu..dulu sekali….aku pernah percaya bahwa ada pencerahan setelah kegelapan, dan setelah itu tidak akan gelap lagi (selamanya). Aku jg pernah berpikir bahwa ada banyak sifat manusia yg tidak bisa berubah, tapi aku percaya aku bisa membuatnya berubah. Dengan cinta? Ah..bukan..karena aku tidak begitu percaya dia mengerti apa arti cinta itu sendiri (dan sumpah aku pikir aku juga tidak punya cinta itu lagi hehehe). Aku berusaha membuka matanya..membuat dia melihat apa yg telah dilakukannya…aku membuatnya mengenali jejaknya sendiri. Di mana dia pernah berhenti, apa yg dia perbuat di sana..dan hasilnya! Derita-derita yg tercetak…luka batin itu, perasaan kehilangan..Oh! Aku pikir dia sudah cukup dewasa untuk memahaminya. Aku kira dia masih punya hati untuk menyesalinya.

Tapi…ternyata tidak! (tentu saja…begitulah kehidupan di dunia nyata, sering tak sebaik yg kita harap).

Dia berhenti tuk melihatku, mendengar perkataanku, meraba luka itu…menangis, tapi tetap saja bisa tertawa saat berjalan. Keterlaluan! Dan yg LEBIH MENYAKITKAN LAGI..dia tidak bisa berhenti tuk tidak membuat luka itu lagi, tuk tidak memberi sakit itu lagi (pada orang lain).

Jadi begitulah…dia jatuh dalam kegelapan lagi. Dan aku terjerembab dalam kehampaan. O..what I’ve been doin?
Kali ini aku hanya mampu melihatnya jatuh. Tidak akan ada pengorbanan lagi. Aku lepas tangannya..lalu beranjak pergi. Good night, have a nice day!


and Good bye! Enough!!

Cinta Semusim: Versi Manusia Bodoh

Sunday, April 2nd, 2006

Satu bulan ini hidupku kacau. Bumi seperti bukan berputar pada porosnya lagi. Hitam Putih saling tindih dengan naifnya, membuat metabolisme tubuhku tak terkendali lagi. Ini bukan hiperbolis atau dramatisasi…u can see it in my eyes. Begitu muram dan hampa. Ke mana bias asa itu? Ke mana senyum (yang kata orang) semanis chocolate ice cream itu?

Semua diawali dari SMS itu:
"Aku gagal pulang ke Indonesia, Honey.."
BRUGH!!…Jatuh..! Jalanku seperti diputar dari atas tebing yg curam sehingga aku kehilangan pegangan.

Tidak…bukan..sebenarnya muara rasa sakit itu bukan karena kenyataan bahwa dia tidak akan pulang tahun ini, tahun depan, atau sepuluh tahun lagi….tapi lebih pada kesadaranku bahwa (mungkin) semua itu terkondisikan di atas kesadaran yg tumbuh di hatinya bahwa (sepertinya) memilihku adalah suatu kesalahan, dan harus dihentikan!

"Semua harapanku tuk hidup bersamamu tak kan pernah hilang dari hatiku, tapi aku takut…aku takut akan lebih menyakitimu karena keadaan yg tak pasti ini…"

BENARKAH?

Berpuluh malam aku terbangun dengan rasa sesak itu…hanya tuk menatap bayangan diriku dlam cermin buram dan mengajukan pertanyaan2 yg sudah tak asing lagi itu: "Kau pikir siapa kamu? Siapa dia?" "Kenapa begitu yakin pada sebuah hati yg asing?" "Dia laki-laki, kan? Lelaki seperti apa dia?" "Tahukah kau apa yg dipikirkannya tentangmu?"…."Mengapa tidak menjabarkan alasan yg lebih ‘masuk akal’ seperti: Honey…it’s time for me to tell the truth. I’ve been bored of you and this relationship. My words mean nothing and our love is just a fucking dream. So let me go, okey?"

"Cinta itu indah Honey..sungguh..aku tak mengira aku bisa merasakan keindahan itu lagi bersamamu…seperti menemukan kembali cintaku yg telah hilang di waktu lalu…"

Cinta itu indah…dan bila cinta itu menyakitkan, maka itu bukan cinta lagi….

Jadi ini apa?? Apa???!! Sebenarnya apa yg telah kau lakukan padaku? Apa yg sedang kau perbuat di hidupku? Apa yg kau niatkan untukku??Apa?….

Suatu malam..ketika aku terbangun dengan rasa sakit yg sama..semuanya terlihat jelas..sangat jelas!

"Sadarkah kau Honey…posisimu di sana lemah. Tolong jangan biarkan "mereka" mengenali jejak hidupmu, karena separuh dari mereka cuma sampah yg hanya akan memanfaatkn kelemahanmu itu.."

Aku sadar..selama ini aku gagal menjawab pertanyaan2 itu karena aku selalu berpikir bahwa dia tidak sama dengan laki2 di luar sana. Aku pikir dia beda, sangat beda. Sehingga semua jawaban2 klise itu tak ada satupun yg cocok untuknya. Tapi sebenarnya…tentu saja jawaban itu sangat simple..too simple, isn’t it?
(Sejujurnya…aku mengetik paragraf ini dengan perang batin. Yah..kau tahu, separuh jiwaku tak pernah bisa menerima tuduhan bahwa kau salah satu dr "mereka")

"Kita tidak hidup dengan masa lalu, maka tutup lembaran itu dan tersenyumlah! Aku kagum dan bangga dengan ketegaran dan ketabahanmu, honey..Aku telah mengunci rumahku yg lama, membuang kuncinya, dan sekarang aku tinggal di rumah cintamu. Hanya kita berdua…kau dan aku…"

Aku dulu pernah bilang padanya, ada banyak HAL yg membuat laki2 jatuh cinta padaku, tapi ada banyak ALASAN yg membuat mereka tidak memilihku. Dulu dia hanya melihat hal2 itu dan mengabaikan alasan2 itu karena merasa dia cukup berjiwa besar tuk menerimanya. Well..tapi dia adalah laki2, bukan? Lelaki yg tak jauh beda dengan mereka di luar sana…Tentu saja. Sekarang dia melihat alasan2 itu menjadi sesuatu yg lebih realistis. Dan aku, yg yg telah bersusah payah mempercayainya, akhirnya hanya menjadi Manusia Bodoh di depannya.

Whaddup J? Well…menyakitkan sekali ya? Aku telah kehilangan dia bahkan jauh sebelum aku "memilikinya"…Tapi aku sangat menyayanginya, sungguh (lagi2 ini bukan dramatisasi). Aku bahagia pernah menjadi manusia bodoh di hidupnya. Lagipula…aku tidak akan membencinya (dan memang tidak bisa membencinya) karena aku tahu itu yg dia inginkan. Seperti di sinetron2 itu…"strategi umum menghindari seseorang dengan memberi kesan buruk agar dia membencinya berdasar keyakinan bahwa melupakan seseorang lebih mudah dengan rasa benci"-ya kan? Yeah..Semoga saja dia akan mengenangku (dengan senyum pastinya).

"Ke mana pun kau pergi aku akan mencarimu…aku janji aku AKAN MENCARIMU!"
(Kalimatmu sore itu..saat aku berurai air mata menangkup sedihku…)

Jadi, (Kelak…) jika dia melihatku dan menyapa, "Hai..how are you?" Dia pasti tahu jawabannya…